Wabup Gowa Akui Ada SPPG ‘Nakal’ Kurangi Kualitas Menu MBG

6 hours ago 8

BeritaKotaMakassar > Gojentakmapan

Selasa 3 Maret 2026 07:00 am oleh

IST
MENU MBG -- Menu kering MBG yang didistribusikan ke anak-anak sekolah selama Ramadan ini berisi sepotong tempe rebus, kolak singkong, buah lengkeng dan telur rebus.

IST MENU MBG -- Menu kering MBG yang didistribusikan ke anak-anak sekolah selama Ramadan ini berisi sepotong tempe rebus, kolak singkong, buah lengkeng dan telur rebus.

GOWA, BKM — Kurun satu bulan terakhir masalah Makanan Bergizi Gratis (MBG) terus disorot. Beragam menu MBG selama bulan Ramadan viral diposting di media sosial baik Facebook, Instagram, TikTok dan lainnya.

Menurut netizen, menu MBG semakin hari semakin memiriskan hati masyarakat dan menu yang djsajikan dinilai tak sesuai takaran harga bahkan menunya dinilai tidak berkualitas.
Salah satu penampakan menu di sekolah tingkat SD adalah satu roti, sebungkus kecil kacang tanah rebus, satu buah jeruk, satu telur rebus. Di sekolah lainnya ada satu telur rebus, satu buah salak, satu roti dan susu kemasan kecil.

Karenanya, masyarakat pun berteriak memprotes kualitas MBG baik di dunia nyata (menyaksikan langsung pembagian MBG di sekolah) maupun di dunia maya (lewat media sosial).
Seperti dikatakan orang tua murid salah satu SD di Kecamatan Somba Opu bernama Linda Afriana. Menurutnya, dia bersyukur ada program MBG karena setidaknya jajanan anaknya berkurang karena sudah menikmati makan siang di sekolahnya secara gratis.

Hanya saja, Linda menyayangkan karena jika dibandingkan makanan yang disiapkan MBG dengan makanan di rumahnya sendiri, jauh lebih higienis dan bergizi.
Sementara yang didistribusi dari dapur MBG dinilainya sedikit tak layak. Sebab dipesan dari pihak ketiga atau mitra dapur MBG. Bukan diolah langsung (non nasi dan lauk pauk).
”Makanya agak miris saya lihat penampakan menu MBG, seolah asal saja diberikan kepada anak-anak. Kami harap pemerintah melakukan pengawasan lebih ketatlah sebab tujuan utama MBG adalah memberikan makanan yang bergizi dan higienisnya. Bisa nda pemerintah meninjau langsung saat proses pengolahan makanan ataupun proses pengepakan makanan di dapur MBG dan melihat langsung cara kerja para SPPG,” kata Linda Afriana.

Hal sama dikatakan orang tua murid di Kecamatan Bontomarannu bernama Daeng Baji. Dikatakan, sebaiknya menu dari dapur MBG diatur sesuai ketentuan gizi terbaik untuk anak.
”Kalau boleh, menu kering yang diberikan seperti roti, kacang goreng atau kacang rebus, buah salak sekali-kali diganti bubur kacang ijo kah, bubur beras ketan merah dan lainnya. Janganmi roti tanpa rasa dipasangkan kacang rebus, buah salak dan telur rebus. Atau kalau bikin lauk, jangan tempe atau tahu terus terus. Anak-anak jadi bosan. Tapi kadang juga anak-anak lahap karena dikasi daging sapi atau ayam,” kata Daeng Baji.

Wakil Bupati Gowa, Darmawangsyah Muin yang dimintai tanggapannya soal menu MBG saat ini mengatakan, masyarakat khususnya di Gowa diminta bersabar menunggu pemerintah melakukan perbaikan dan pembenahan di semua SPPG dalam pengaturan sistem kerja di dapur MBG.
”Soal MBG ini kan program yang baru berjalan satu tahun. Dari penilaian bangsa-bangsa lain di luar negara kita, program ini sudah berhasil. Tapi kan semua program tidak ada yang sempurna. Pasti ada yang kurang sempurna sehingga butuh perbaikan-perbaikan. Dan itu sudah dilakukan oleh bapak Presiden kita. Bahwa pasti setiap program ada yang tidak sempurna dan di lakukan perbaikan-perbaikan, itu sudah luar biasa. Seperti halnya di Gowa, pengawasan akan terus kita tingkatkan,” tandas Wabup DM kepada BKM usai membuka Musrenbang Anak, Perempuan dan Disabilitas pada Kamis (26/2) lalu di Baruga Tinggimae kompleks Rujab Bupati Gowa.

Dikatakan DM, perbaikan-perbaikan telah dilakukan bahkan dirinya yakin bahwa Pemerintah Pusat akan mencari sistem terbaik untuk pelaksanaan MBG ini ke depannya.
”Saya hanya berharap, masyarakat sabar untuk melihat bahwa program ini sangat bagus sambil menunggu pemerintah pusat melakukan perbaikan sistem yang lebih baik termasuk aturan-aturan teknis dari penyediaan MBG ini. Saya merasa ini bukan persoalan programnya tapi mungkin karena persoalan SPPG yang agak nakal dikit. Nah itu yang mengurangi kualitas menu sehingga masyarakat protes,” kata DM.

DM juga merasa untuk pengawasannya saat ini, pihak BGN (Badan Gizi Nasional) sudah mulai menyadari sehingga pasti BGN akan melakukan pengawasan terbaik lebih ketat dan lebih maksimal.
”Apalagi di medsos itu, BGN sudah menyampaikan akan melakukan pengawasan secara ketat dan tidak boleh ada mark up di 10.000 itu. Kami juga di Pemkab Gowa bila mendapatkan laporan maka kita akan turun melakukan pengawasan. Masyarakat yang tidak puas silahkan laporkan, maka kami akan turun mengawal. Intinya program ini harus sukses bukan hanya perbaikan gizi tapi memang anak-anak sekolah itu suka. Dimana pun kami turun, anak-anak sekolah selalu menanyakan MBG itu. Jadi memang di sosial media itu mengatakan begini begitu tapi di lapangan anak-anak justru merindukan MBG. Saya rasa sistemnya saja yang perlu dibenahi,” tandas Wabup Gowa ini. (sar)






Rekomendasi Untukmu


Epaper Berita Kota Makassar

Read Entire Article
Info Buruh | Perkotaan | | |