Ketika Karisma Pergi, Nilai Harus Tetap Hidup

7 hours ago 8

loading...

Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta. Foto/UDN.

Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta

Berita duka itu menyebar cepat. Seorang pemimpin yang selama hampir empat dekade menjadi poros telah berpulang. Di Iran, ribuan orang turun ke jalan, menangis, memukul dada. Di Lebanon, Irak, Yaman, para loyalis bertanya-tanya. Apa yang akan terjadi sekarang?

Wafatnya Ali Khamenei bukan sekadar pergantian pemimpin. Ia adalah akhir dari sebuah era. Tapi bagi kami yang sehari-hari bergelut dengan dunia pesantren, peristiwa ini mengingatkan pada pertanyaan yang sama. Pertanyaan yang selalu muncul setiap kali seorang kiai besar wafat. Akankah organisme ini terus bertahan? Apakah nilai-nilai yang dijaga selama puluhan tahun akan tetap hidup, atau ikut terkubur bersama jasadnya?

Pertanyaan ini tidak hanya relevan di Iran. Ia adalah pertanyaan universal bagi setiap organisme yang dibangun di atas karisma seorang pemimpin.

Tiga Pertanyaan yang Sama

Di Iran, pertanyaan itu berbunyi: apakah loyalitas diberikan kepada pribadi Khamenei, kepada prinsip wilayat al-faqih (kepemimpinan tertinggi para fukaha), atau kepada negara sebagai institusi? Selama puluhan tahun, ketiganya menyatu dalam satu figur. Kini, setelah figur itu tiada, ke mana loyalitas harus diarahkan?

Di pesantren, kita mengenal pertanyaan yang persis sama. Santri mencintai kiai mereka sebagai guru dan pembimbing ruhani, sebagai sumber berkah, sebagai panutan hidup. Tapi ketika kiai itu tiada, apakah cinta itu otomatis berpindah pada anaknya? Pada menantunya? Pada santri seniornya? Atau pada pesantren sebagai lembaga?

Pertanyaan kedua: bagaimana mentransfer otoritas karismatik ke dalam sistem institusional? Karisma tidak bisa diwariskan seperti harta. Ia tidak bisa dipindahkan melalui rapat atau surat keputusan. Lalu bagaimana sebuah sistem bisa tetap berjalan ketika sumber karismanya tiada?

Pertanyaan ketiga: apa yang membuat jaringan tetap utuh saat pusat simboliknya hilang? Hizbullah di Lebanon, faksi-faksi di Irak, Ansarullah di Yaman, semua ini adalah jaringan yang selama ini terhubung ke Teheran. Begitu pula jaringan alumni pesantren yang tersebar di seluruh Nusantara. Ketika pusatnya goyah, apakah jaringan akan tetap kokoh, atau mulai merenggang?

Gontor: Ketika Trimurti Pergi, Sistem Tetap Jalan

Pondok Modern Darussalam Gontor mungkin contoh paling sukses dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Ketika KH Imam Zarkasyi wafat pada 1985, para santri menangis. Tapi air mata itu tidak berlangsung lama. Sebab, Trimurti (KH Ahmad Sahal, KH Imam Zarkasyi, KH Zainuddin Fananie) telah memikirkan apa yang akan terjadi setelah mereka tiada jauh-jauh hari.

Keputusan paling radikal yang mereka ambil adalah mewakafkan pesantren milik mereka kepada umat Islam. Dengan demikian, tidak ada lagi kepemilikan pribadi atas Gontor. Badan Wakaf lah yang menjadi pemilik sah, dan Badan Wakaf pula yang akan memilih pengganti ketika seorang pimpinan wafat.

Falsafah yang mereka tanamkan sederhana namun dalam. Patah tumbuh, hilang berganti. Belum patah sudah tumbuh, belum hilang sudah berganti. Ini bukan slogan. Ini adalah mekanisme yang hidup. Gontor selalu memiliki tiga pimpinan secara bersamaan, sehingga ketika satu wafat, dua masih ada, dan yang baru segera dipilih untuk melengkapi.

KH Hasan Abdullah Sahal mengisahkan bagaimana dirinya bersama KH Abdullah Syukri Zarkasyi digembleng KH Imam Zarkasyi selama delapan tahun sebelum wafat. Dalam suasana haru di pondok, beliau mengenang bahwa mereka tidak hanya diajari tentang manajemen pondok, tapi juga ditempa secara mental dan spiritual. KH Imam Zarkasyi memastikan bahwa nilai, bukan sekadar figur, yang akan diwariskan.

Proses kaderisasi panjang ini dilengkapi dengan dimensi spiritual yang tak terlihat. Warisan batin inilah yang kemudian menjadi energi bagi para penerus ketika mereka harus memimpin di masa sulit.

Ketika KH Syukri wafat pada 2020, Badan Wakaf bergerak cepat. Kurang dari 48 jam, dua pimpinan baru ditunjuk. Seperti yang dikatakan Sekretaris Badan Wakaf saat itu, pimpinan boleh tiada, boleh meninggal dunia, tapi pondok harus tetap hidup.

Apa yang dilakukan Gontor adalah menjawab pertanyaan pertama dengan tegas. Loyalitas diberikan pada nilai dan sistem, bukan pada pribadi. Loyalitas pada pribadi tetap ada, tapi ia adalah tambahan, bukan fondasi.

Darunnajah: Tiga Pendiri dan Tunas yang Terus Tumbuh

Pondok Pesantren Darunnajah lahir dari cita-cita tiga orang. KH Abdul Manaf Mukhayyar, Drs H Kamaruzzaman, dan Drs KH Mahrus Amin. Mereka adalah tiga serangkai yang saling melengkapi.

KH Abdul Manaf Mukhayyar adalah penggagas utama. Ulama Betawi kelahiran Palmerah, 29 Juni 1922 ini, sejak muda sudah bercita-cita mendirikan lembaga pendidikan Islam. Inspirasi itu ia dapatkan saat belajar di Jam'iyyat Khair, sekolah Islam modern pertama di Indonesia. Konon, saat masih menjadi murid di sana, ia pernah menulis sebait syair. Idza sirtu ghaniyyan daaftahu madrasatan majjanan lil fuqara'. Seandainya kelak menjadi orang kaya, saya akan membuka sekolah gratis untuk anak-anak yang tidak mampu.

Cita-cita itu ia wujudkan dengan perjuangan panjang. Pada 1942, ia mendirikan Madrasah Islamiyah di Palmerah. Setelah tanahnya digusur untuk proyek Asian Games 1962, ia mencari lahan baru di Ulujami. Saat membeli tanah itu, ia bahkan merelakan cincin kawin istrinya, Hj Tsurayya, untuk dijual sebagai tambahan biaya. Saya ingat sekali, cincin berliannya saya ambil, saya minta dengan ikhlas. Diserahkan, saya jual, saya beli itu tanah, begitu penuturannya.

Read Entire Article
Info Buruh | Perkotaan | | |